Transforme

Meet Our Scholarship Trainers

Devfanny Aprilia Artha

Banting setir dari sekolah vokasi farmasi, akhirnya Devfa berhasil meraih gelar master dari University of Westminster, London-UK di jurusan Media dan Komunikasi dengan Beasiswa dari Kemendikbud RI pada Juli 2012. Tak hanya itu, Devfa juga menjabat sebagai Asisten Atase Pendidikan Indonesia di KBRI London selama setahun.

Setelah menamatkan S2, Devfa sempat menjadi Kepala Humas di Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi Devfa dalam mendirikan kursus bahasa Inggrisnya https://www.devfartha.com.

Ia merupakan Professional English Trainer yang telah membimbing ratusan karyawan dan para profesional di berbagai Kementerian, BUMN, dan perusahaan besar di Indonesia.

Sutaningrat Puspa Dewi​

Sutaningrat Puspa Dewi menempuh pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha. Ia kemudian melanjutkan studi S2-nya di Queen’s University Belfast dengan beasiswa Chevening dan berhasil meraih Distinction untuk gelar MSc Educational Leadership. Semasa kuliah, Puspa aktif menjadi UK-Indonesia School Partnerships di PPI UK dan menjadi meeting facilitator di Parents Parliament Irlandia Utara. Ia juga mendapat beasiswa full untuk sertifikasi Level 7 Strategic Project Management and Leadership dari Chartered Management Institute (CMI).

Karirnya sebagai guru dimulai sejak 2012 di Canggu Community School hingga ia menjadi Wakil Kepala Sekolah pada tahun 2016. Puspa kemudian aktif sebagai Head of SPK Singapore Intercultural School (SIS) tahun 2016-2018 untuk 8 cabang sekolah. Kini, Ia fokus menjadi edupreneur, konsultan sekolah, dan memberikan pelatihan untuk komunitas pendidikan di Indonesia.

Retno Lestari Ningsih

Retno Lestari Ningsih, yang akrab disapa Eno, menamatkan S2 sebagai Master of Science di Loughborough University London. Ibu satu anak ini mengambil jurusan Internet Technologies with Business Management pada usianya yang ke-34. Ia percaya bahwa  beasiswa adalah kesempatan yang bisa diraih siapapun dan kapanpun. Tips praktis dan filosofis tentang bagaimana sukses mendapatkan beasiswa ia tulis bersama Mogantara Zega dalam bukunya “Rahasia Pemburu Beasiswa”. Kemudian untuk mewujudkan visinya menjembatani media digital dan edukasi, Retno kini mendirikan TransforMe guna membantu banyak orang agar memiliki kompetensi global.

Sejak 2006, Retno menggeluti Industri media sebagai jurnalis dan produser di berbagai stasiun televisi swasta di Indonesia, seperti Trans7, ANTV, Berita Satu TV, Kompas TV, dan SCTV. Kerja kerasnya dalam karir mengantarkan Retno menjadi jurnalis internasional di Voice of America, Washington DC, Amerika Serikat melalui program PPIA-VOA Broadcasting Fellowship Program pada tahun 2012-2013. Ia bahkan menjadi Digital Media Producer di SCTV selama 2017 – 2018

Istman Musaharun

Istman Musaharun Pramadiba menempuh pendidikan S2 di University of Leeds untuk jurusan Media Industries. Ia lulus pada tahun 2019 sebagai penerima Chevening Scholarship. Lebih dari 10 tahun Istman bekarya sebagai jurnalis. Kini Ia bekerja sebagai Editor di International News Department Tempo yang sering bersinggungan dengan berbagai isu global seperti konflik Timur Tengah, pandemi, hubungan diplomasi, hingga isu sensitif seperti human trafficking

Di tengah kesibukannya, Istman terus mengembangkan Play Stop Rewatchstartup platform media yang berfokus pada industri film internasional dan lokal, yang ia bangun sejak 2019. Ia berhasil memenangkan 1001 Startup Competition dari Kumparan pada 2019.

Gilang Fauzi

Gilang Fauzi lulus dari Murdoch University dengan gelar Master of Development Studies pada tahun 2017. Ia menempuh pendidikan di Australia sebagai penerima Australia Awards Scholarship. Tak cukup dengan satu gelar master, tahun ini Gilang kembali melanjutkan studinya di University of Glasgow untuk mempelajari Tourism, Heritage and Sustainability. Lagi-lagi, ia telah mengantongi acceptance letter dari beasiswa paling bergengsi: Chevening Scholarship!

Sebelum studi S2, Gilang telah bekerja di institusi pendidikan bahasa Inggris lebih dari 10 tahun. Ia memutuskan untuk terjun ke bidang pengembangan dengan bekerja di The Australian Consortium for ‘​In-Country’​ Indonesian Studies. Saat ini Gilang fokus mengembangkan Travelxismstart-up yang ia rintis pada  tahun 2019, untuk mendukung sustainable tourism melalui konsultasi, media, dan tur.

Albertus Nindyo Wicaksono

Albertus Nindyo Wicaksono, kerap disapa Nindyo, menyelesaikan S2 dengan gelar Master of Business di bidang International Business dan Human Resource Management dari University of Queensland (Brisbane, Australia). Ia berangkat bersama para mahasiswa/i Indonesia sebagai penerima Australia Awards Scholarship pada tahun 2020. Berbagai tantangan yang dilalui selama pandemi di luar negeri tidak menyurutkan semangatnya selama 1,5 tahun masa studinya. Nindyo berhasil mendapatkan Dean’s Commendation for Academic Excellence selama 3 semester berturut-turut. Bahkan semasa studinya, ia juga aktif sebagai Research Assistant di Advisory Board Centre (Brisbane, Australia).

Sebelum melanjutkan studi, Nindyo telah berkiprah lebih dari satu dekade sebagai profesional di bidang Akuntansi dan Keuangan, baik di perusahaan multinasional maupun BUMN. Saat ini, Nindyo melanjutkan karirnya di perusahaan holding BUMN sektor energi. Nindyo percaya, setinggi apapun tangga karir yang telah ditapaki, tidak ada kata bosan untuk meng-upgrade diri. Dengan senang hati, Nindyo akan mendampingi proses belajar teman-teman bersama TransforMe.

I Made Andi Arsana

I Made Andi Arsana atau akrab disapa Bli Andi. Beliau menyelesaikan studi S2 di University of South Wales dan S3 di University of Wollongong dengan beasiswa dari pemerintah Australia. Saat ini, Bli Andi berkiprah sebagai seorang dosen di Departemen Teknik Geodesi sekaligus Head of International Office di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Beliau telah mempublikasikan 9 buku dan puluhan jurnal internasional sepanjang karirnya. Selain aktif menulis dan mengajar, Made Andi juga sering berbagi ilmu tentang bagaimana meraih beasiswa maupun tentang pendidikan lewat blog pribadinya https://madeandi.com.

Rani Hastari

Rani Hastari menyelesaikan studi MA Childhood Studies, University of Leeds, Inggris dengan beasiswa LPDP. Rani terpilih sebagai Research Assistant di Voice, Influence and Change Team — Leeds City Council — mewakili University of Leeds. Sebelumnya, Rani menempuh S1 di Universitas Indonesia.

Rani memiliki pengalaman berkarya di bidang pembangunan dan kemanusiaan, baik di NGO internasional maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa. Rani menggeluti bidang hak-hak anak dan kaum muda, gender dan inklusi dengan membangun beberapa inisiatif, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT); serta berpengalaman dalam peningkatan kapasitas, kampanye, proyek, riset, dan advokasi.

Saat ini, Rani bekerja sebagai Gender Equality & Social Inclusion (GESI) Specialist di Plan International di Indonesia. Ia juga berperan sebagai Presidium di Jaringan AKSI untuk mendukung hak-hak anak dan remaja, khususnya perempuan, untuk mencapai kesetaraan gender yang berfokus pada isu Kekerasan Berbasis Gender dan Perkawinan Anak. Rani juga berperan sebagai Gender Adviser untuk Voice for Change Programme Asia, serta salah satu focal points untuk Child, Early and Forced Marriage (CEFM) dan Gender Network, Plan International Asia Pacific dan aktif di Pokja Pengarusutamaan Gender COVID-19.

Rifki Furqan

Rifki Furqan menempuh studi S2 double degree dengan beasiswa DAAD pada program Master of Science Water and Coastal Management di University of Oldenburg serta Master of Science Enviromental and Infrastructure Planning, Spatial Science di University of Groningen. Sehingga pada tahun pertama, ia menempuh studi di Jerman kemudian melanjutkan tahun keduanya di Belanda. Selama kuliah, Rifki aktif bergabung dengan PPI Bremen dan PPI Groningen.

Usai pendidikan pascasarjana, Rifki mengabdi lewat Indonesia Mengajar. Tahun 2015, Rifki mulai terjun ke bidang perikanan sebagai Manajer Program Implementasi untuk tiga proyek di organisasi non-profit, lalu bergabung dalam Tetra Tech pada 2018 dalam proyek USAID SEA. Kini, Rifki kembali melanjutkan studi S3 di Leibniz Centre for Tropical Marine Research dengan Doctoral Research Grant dari DAAD.

Adi Dharma Pramudita

Adi Dharma Pramudita adalah seorang anggota Polri, saat ini berpangkat Komisaris Polisi dan berdinas di Bagian Staf Sumber Daya Manusia Polri.
Salah satu tanggung jawab tugasnya saat ini adalah memproses adminsitrasi anggota Polri yang akan melaksanakan penugasan di Luar Negeri. Pada tahun 2019, Adi menyelesaikan pendidikan S2 MSc Information Technology di University of Glasgow dengan beasiswa Chevening.

Sebelum dinyatakan lulus terpilih sebagai penerima beasiswa Chevening, Adi mengikuti persiapan bahasa inggris di Sekolah Bahasa Polri selama 3 bulan dan mengikuti tes IELTS, mendapatkan nilai 8 overall. Adi memiliki background pendidikan Diploma of IT (Computing) yang diperoleh dari Monash College Melbourne Australia, Sarjana Hukum di Universitas Widya Mataram Yogyakarta dan Sarjana Ilmu Kepolisian dari Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian Jakarta.